Rabu, 28 Maret 2012

Be open to crities

kita ngga begitu suka di kritik…
kenapa? Karena kita punya ego. Ego ini bersifat seperti lapisan pelindung yang paling luar buat harga diri dan self esteem. Dia ini yang sering jadi self-justification, meyakinkan diri sendiri bahwa kita udah melakukan yang terbaik, bahkan kadang paling benar.
Saat nerima kritik, orang yang ego nya besar bisa ngerasa offended banget, dia akan langsung ngeluarin jurus defense duluan, tanpa mikir apakah kritik itu ada benar nya atau nggak. Nah, kadar ego tiap orang tentunya berbeda beda. That’s why ada yang bisa nerima kritik dengan sportif, tapi ada juga yang jelas jelas menolak untuk di kritik. Intinya sih tetep sama, we don’t really like being criticized. Apalagi kalo datengnya tiba tiba tanpa diminta.
Tapi demi kemajuan, yuk kita belajar untuk bisa terbuka nerima kritikan. Memang ada kritikan yang berbau ‘iri’ tapi lama kelamaan kelihatan jelas kok bedanya. Kalau ngga membangun sama sekali, boleh aja kok di ignore.

Dari mana kritik itu datang?
Saat seseorang melontarkan kritik ke kita, semua itu pasti ada alesannya. Beberapa hal dibawah ini bisa jadi latar belakang munculnya sebuah kritikan :
1.      Bisa jadi Cuma mau nyampein pendapat aja. Yang pasti dia Cuma mau mengutarakan apa yang ada di pikirannya aja.
2.      Kritik juga bisa datang dari ahlinya. Misaln ya cerpen yang kita buat di komen abis abisan sama seorang penulis. Ngga usah sakit hati, kritik dari golongan ini nih yang paling perlu di dengerin. For the sake of our self-improvement.
3.      The criticize because they care. Kritik juga bisa datang dari rasa peduli. Sahabat sendiri mengkritik hasil karya kamu yang kurang oke dan masih belum terlambat untuk di benerin, itu tandanya dia peduli sama kamu. Dia percaya kamu bisa bikin yang lebih keren lagi. Beda dengan temen yang mencela kamu akan sesuatu yang udah terlanjur terjadi. Nah kalo kritik tentang bad habits kamu yang tukang ngaret, lelet, jorok, dan sebagainya itu nggak lain demi kebaikan diri kamu sendiri
4.      Diluar dari tujuan yang semestinya, yaitu untuk membangun, ada kritik yang justru di lontarkan untuk menjatuhkan seseorang. Ini biasanya muncul dari rasa iri atau persaingan dari si pengkritik. Mereka akan member kritik tanpa solusi ataupun masukan yang berarti.

Jumat, 24 Februari 2012

Attach – detach


Kalau masih bingung gimana caranya supaya ngga terlalu terikat sama sesuatu, try this steps . . .
1.       Familiarize your self to change
Karena inti dari susahnya kita melepas sesuatu adalah males menghadapi perubahan, dari sekarang justru sering sering deh ‘main’ sama yang namanya variasi. Jangan berteman sama orang yang itu itu saja. Cobain kesekolah naik bis atau angkot. Belajar hidup mandiri, jauh dari orang tua. Pacaran dengan tipe cowok yang berbeda beda. Dengan begini kamu ngga punya kesempatan berlebihan untuk terikat banget sama satu hal, dan terbiasa menerima sesuatu yang baru dengan lebih terbuka. Tpisnya, hilangkan rasa takut. Banyak perubahan yang menciptakan konflik di awal dan membawa sesuatu yang lebih baik pada akhirnya. Lagipula, if nothing ever changed, there’d be no butterflies.
 
2.     Some things are meant to be let go
To let go is to fear and love your self more. Dalam melepas sesuatu, sadari betul bahwa hal tersebut emang udah selesai perannya dalam hidup kita. Ngga sia sia tapi ya nggak perlu di perpanjang lagi .

3.     Don’t hold it too tight, it might slip away
Udah akrab kan sama pepatah yang satu ini, biasanya digambarkan sama pasir yang di genggam ditangan. Treat whatever you have right now, seperti pasir tersebut. Ironis kan kalo kita remes keras keras, justru pasirnya malah ngga tersisa sama sekali .

4.     Time flies and you’ll survive
Never underestimate the healing power of time dan kemampuan manusia untuk beradaptasi. Dua hal ini will get you through even the most drastic change in your life. Yakin deh, stiap kamu kehilangan sesuatu, kamu pasti akan dapat gantinya walau lewat bentuk yang berbeda. Nobody can go back and start a new beginning, but anyone can start today and make a new ending .

Rabu, 22 Februari 2012

What sex could do to your relationship . . .


mungkin beberapa orang berfikir, sex before marriange will do no harm to their relationship. Malah bisa bikin tambah deket dan saling cinta. Itu dia yang namanya salah presepsi. Efek buru sex terhadap hubungan pacaran emang seringnya ketutupan sama sesuatu yang semu. Baca artikel yang ini supaya ngga ‘ketipu’ .

1.    Lose it’s innconet fun
Nggak perlu munafik, sex is fun, who can argue with that? Tapi apa perlu kamu merasakan the fun of sex dimasa muda? When you can have sooo many other kind of fun. Adults nggak terlalu punya fleksibilitas untuk hang out, make new friends, pake baju baju yang lagi ngetrend, going to the hip place, or try new things, maybe that’s why God created sex for them =) . sedangkan buat kita, kesempatan terbuka selebar lebarnya. You can try any kind of innoncent fun with your boyfriend. You don’t need sex. Karena sekali kamu merasakan sex sama pacar, itu bisa jadi kegiatan paling fun, padahal kalau dipikir pikir, apa yang fun kalo melakukan sex yang udah pasti disertai rasa bersalah, bahkan kadang membuat kita sebagai cewek merasa sangat menyesal.

2.     Sex forms pseudo bond
Sekilas sex memang terlihat dan terasa seperti melekatkan hubungan. Padahal ikatan yang terbentuk itu semu. “Romantic love is one of the most powerfull of all human experiences, it is definitely more powerfull than the sex drive” ….
Jadi bener kalau sex adalah kebutuhan manusia tapi bukan kebutuhan cinta. Cinta bisa berdiri sendiri tanpa sex. Ikatan ikatan yang muncul oleh sex itu ngga terbukti memperkuat rasa cinta yang tulus. Ikatan emosional mungkin aja dirasakan oleh pihak cewek, tapi belum tentu oleh si cowok .

3.     Lead to unsolved problems
Sex bisa dijadikan alat untuk memperbaiki masalah. Lagi lagi Cuma tipuan. Pasangan yang sudah mengenal sex, bisa berhubungan sex saat lagi berantem, lalu masalah yang ada dibiarkan menggantung gitu aja. Kalau udah gini, sex berfungsi jadi karpet yang menyipan banyak debu. Relationship yang dijalani pun makin ngga sehat karena menyimpan segudang masalah. Saat hubungan mulai terasa garing dan udah ngga ada kecocokan sama sekali pun, pasangan yang melakukan sex aktif bisa terus bertahan, Cuma karna hal yang satu itu. Makin ngga jelas deh dasar hubungan pacaran itu rasa sayang atau sex? Hhmmm ….

4.     Open to worst case scenario
Melakukan sex saat masih pacaran, berarti siap menghadapi konsekuensi terburuknya. Antara lain: terkena penyakit kelamin, yang cewek hamil, aborsi? Nikah muda, yang cowok berhenti sekolah untuk nyari kerjaan, yang cewek cuti sekolah untuk melahirkan, melupakan cita cita, kehilangan masa depan, dicemooh lingkungan sekitar, bikin malu orang tua, dll. Udah dosanya banyak, cobaanya juga. Itu semua kemungkinan yang terbuka lebar untuk pasangan yang melakukan sex diluar nikah.

5.     Possessive relationship
Sex sepantasnya dilakukan oleh sepasang manusia yang sudah menikah. Dimana mereka perlu mempunyai ikatan yang kuat untuk menjalankan hidup bersama dan membesarkan seorang anak. Tapi kalau dilakukan sama orang yang baru pacaran, kadang memunculkan hubungan yang over possessive. Jangankan menikah, tunangan aja belum, tapi udah melakukan sex yang lalu membuat pasangan saling memiliki satu sama lain secara berlebihan. Padahal sicewek dan cowok juga milik keluarganya, milik teman temannya. Sex juga bikin kita terjebak berfikir to spend the rest of our life with the guy, padahal siapa tau ada orang yang lebih baik untuk kita dan untuk si dia di luar sana .

6.     Sex changes everything
Sex change the nature of the relationship. Relationship dengan dan tanpa sex jauh berbeda. Tanpa sex, relationship seumuran kita is about sharing, communicating, spending time together, getting to know each other’s personality, solving problems, and breaking up saat memang harus putus. Tapi dengan sex before married, relationship is more about, bonding, physical connection, hidden agenda and cover up problems. Sex merusak hubungan pacaran yang seharusnya menyenangkan, jadi penuh rasa bersalah .